Selasa, 31 Oktober 2017

Belenggu asmara


Waktu itu
Ku teringat bayang-bayang mu
Senyuman mu terpangpang manis di ingatanku
Waktu itu masih teringat ketika diriku kenal dirimu
Namun kini sudah tak seperti dulu lagi
Jarak kita sangat jauh bagai langit dengan bumi

Kenangan yang indah kini telah pudar di makan masa
Harapan-harapan telah pupus gelap gulita
Jantung berhenti berdetak
Dalam rasa nan jauh semerbak

Betapa hancur nya hati ini ketika dirimu bersamanya
Butiran kaca yang pecah lebur di terpah hantaman
Mematahkan tulang tulang dalam dada yang kiat merana
Terurai bagai pasir terkena ombak alulalang







Senin, 30 Oktober 2017

Asmara Tajwid


Saat mentari tebar pada bumi
Senja tampak naik sambut datangnya  pagi
Gemerlap hadirnya ilahi
Seindah lentera Tuan putri

Bagai idhar menyusuri gelapnya jiwa
Lebur dalam tiap tumpukan idhgom yang merana
Memantul dalam ruang masa yang teramat dalamnya
Kini hanyalah sebuah kenangan ikhfa yang meratapi masa

Asmara yang tak kunjung datang
Hilang dan pergi tak tahu arah pulang
Sungguh berat melepas seorang
Teruntuk orang yang tersayang

Terpintas  rembulan yang tersenyum
Menerangi bumi di kegelapan malam
Terikat dalam putaran waktu yang mulai tenggelam
Teriring angin menyapa dalam semayam
Hilanglah kenangan-kenangan yang terpendam

Minggu, 29 Oktober 2017

Masa muda


Dikala usia yang canda tawa
Penuh uraian kata2 manja
Lisan bergoyang bagai anak jenaka
Pikiran bebas entah kemana

Tapi tidak dengan tubuh ini
Pahit rasanya
Gentir rasanya
Hidup bagai tak sedikit pun campuran gula
Tubuh ini iri melihat yang lainnya
Tafakur menginginkan masa-masa madu bersamanya

Ku gadaikan masa-masa  yang penuh tawa
Dengan untaian ilmu yang bermanfaat
Masa depan teruntuk umat
Semoga jadi syafaat kelak di akhirat 

Orientasi

Orientasi

Taman bunga,
Tahukah bagaimana diri ini merasakan kegelapan kisah ini ?
Tahukah cara kami melawati ini ?
Rasanya kalian hanya tahu latar kami yang penuh candaan

Taman bunga,
Tahukah begitu sulitnya kami berada di sini
Kami lelah,
Kami haus,
Kami lapar,
Semuanya tercampur jadi satu
Tapi kami tak pedulikan itu
Kami ingin mencari secerca filsafat alami
Yang membawa kami dalam kunci keberhasilan



Ketika kau hadir


Ketika dulu tak mengenal rasa ini
Ku kira ini hanyalah sebuah imajinasi
Tapi setelah ku dalami
Rupanya ini rasa yang muncul hakiki

Ketika dulu tak ada semangat lagi
Rasa nya ingin sekali teriak sampai terdengar bumi
Sampai tak ada lagi kepedihan dalam hati
Yang melelahkan letihnya jasmani

Fulanah
Dengarkan suara kecil ini
Wajahmu membuat hati ini semakin iri
Berseri-seri dalam buaian hati
Kau harus tau betul akan ini
Yang menjadikan diriku tertatih-tatih
Merintih memohon pada bumi
Hai pujaan hati

Kamis, 26 Oktober 2017

Padepokan Bandrong Cempaka Putih rampak

       Bandrong adalah salah satu seni Pencaksilat di Banten.  Yang memiliki karakteristik menyerang dan bertahan.  Yang memiliki unsur ketangkasan, kecepatan dan power yang kuat pria. 
Tentu ada teman yang tanya kenapa anda suka terhadap seni ini ? 

        Jawabannya simpel,  karna budaya daerah musti di lestarikan bukan di hilangkan. 
So mari lestarikan budaya daerah anda,  supaya tak tergerus oleh budaya luar yang negatif. 

Saudaraku Palestina

Diriku tak pernah liat akan dirimu Diriku tak kenal penghuni negeri mu Namun telinga ini selalu mendengar nama mu Hati ini merasaka...